latihan3

cobaaaaaaaaaaa

Cari Blog Ini

Minggu, 20 Maret 2011

Cara Membuat Kotak Informasi Menarik Di Web/Blog

Salah satu cara agar tampilan website/blog lebih menarik dan informatif adalah dengan menambahkan CSS (Cascading Style Sheet). Tetapi kali ini tidak akan dibaahs apa itu CSS, tetapi langsung menerapkan dan mencoba untuk membuat kota informasi, peringatan, atau sejenisnya dalam sebuah tulisan di web/blog dengan salah satu fungsi/kode CSS.
Sekaligus ini menjelaskan (menjawab) pertanyaan salah satu pengunjung, tentang bagaimana cara menambahkan kotak informasi/peringatan penting, seperti di beberapa artikel ebsoft.

Hal ini bisa kita lakukan dengan kode (tag) HTML div. DIV merupakan kode HTML yang akan menghasilkan blok paragraf, biasa saya istilahkan dengan Box. Karena dengan menuliskan paragraf atau kalimat diantara tag <div>....</div>, maka kalimat/paragraf terseut akan tampil dalam box yang bisa kita atur tampilannya. Untuk memudahkannya, berikut berbagai contoh dan penggunaan tag DIV.

color dan background

Kotak ini adalah penggunaan dengan kode HTML berikut :
<div style="color:red;background:yellow;"> ... </div>
Perhatikan bagian setelah style. bagian itulah yang menentukan tampilan box dengan menggunakan DIV. Kode diatas menggunakan 2 atribut, yaitu color dan background. Color akan menentukan warna text dan background menentukan warna latar. Perhatikan pula penulisan tanda titik dua dan titik koma.
Atribut warna bisa diisi dengan tulisan seperti : black, blue,green, yellow, red, white dan lainnya. Bisa juga dengan menggunakan kode Heksadesimal, misalnya #FFFFFF untuk putih #0000FF untuk biru dan lainnya. Untuk mempermudah memilih warna terbaik, bisa menggunakan program gratis ColorPic

border

Pada kotax/box sebelumnya, warna kuning terlihat tanpa garis tepi. Akan lebih menarik jika kita meambahkan garis tepi di sekelilingnya. Hal ini bisa dilakukan dengan menambahkan atribut border. Contohnya sebagai berikut:
Kotak ini adalah penggunaan dengan kode HTML berikut :
<div style="color:blue;background:#EBF3FB;border:1px solid #AACCEE;"> ... </div>
Penjelasan nilai setelah border adalah sebagai berikut : 1px menandakan ketebalan garis ( 1 pixel merupakan satu garis tipis), solid merupakan bentuk atau rupa garis dan #AACCEE merupakan warna garis. Masing-masing dipisahkan dengan tanda spasi.
Untuk bentuk (style) border selain solid, juga bisa bernilai none, hidden, dotted, dashed, double, groove, ridge, inset, outset dan inherit. Contoh masing-masing bisa dilihat tutorial CSS border

padding dan margin

Pada box sebelumnya tulisan dalam kotak terlihat terlalu rapat dengan garis tepi (baik kiri, atas, kanan atau bawah). Agar tampilan lebih indah, maka tulisan bisa dibuat agar mempunyai jarak dengan garis tepi (lebih menjorok kedalam). Hal ini bisa kita lakukan dengan menambahkan atribut padding. Berikut contohnya :
Kotak ini adalah penggunaan dengan kode HTML berikut :
<div style="color:#990099;background:#ADE4AD;border:2px dashed #006600;padding:5px;margin:10px;"> ... </div>
Nilai padding:5px, berarti tulisan dalam box masuk kedalam sepanjang 5 pixel (1 pixel adalah satu garis tipis). Sebenarnya nilainya bisa diisi lebih detail misalnya padding:2px 3px 4px 5px, yang berarti jarak dari garis atas 2 pixel, dari kanan 3 pixel, bawah 4 pixel dan kanan 5pixel. Urutannya dari atas-kanan-bawah-kiri.
Untuk margin hampir sama dengan padding, hanya saja untuk margin menentukan jarak kotak ke area diluarnya (dari garis tepi keluar, mulai atas-kanan-bawah-kiri). Pada contoh tampilan diatas (yang berwarna hijau), tampak box posisinya menjorok kedalam. Karena margin:10px, maka posisi box sejauh 10 pixel dari atas, kanan, bawah dan kiri. Pengisian juga bisa dilakukan seperti padding

width (lebar box)

Dengan kode-kode seperti diatas, maka panjang box akan selebar konten atau area yang tersedia. Untuk membatasi lebar kotak, kita bisa menggunakan atribut width. Berikut contohnya:
Kotak ini adalah penggunaan dengan kode HTML berikut :
<div style="color:#FFFFFF;background:#FFD4AA;border:2px dotted #FF2A00;padding:5px;margin:5px;width:300px;"> ... </div>
properti width akan mengatur dan membatasi ukuran box. pada contoh di atas, nilainya adalah 300 pixel. Sebenarnya masih banyak atribut lain yang bisa disertakan, tetapi sementara 6 atribut diatas sudah cukup untuk membuat tulisan lebih informatif (dengan pemilihan warna yang tepat tentunya).
Satu hal yang perlu diperhatikan ketika menuliskan kode tersebut (dalam menulis artikel) adalah harus dalam mode HTML, bukan dalam mode visual.

MODEL PENGAJARAN LANGSUNG



<span class="fullpost">
A. Ruang Lingkup Pengajaran Langsung

Pembelajaran langsung
Keterampilan, baik kognitif maupun fisik, dan juga informasi yang lain, merupakan  landasan untuk pembangunan hasil belajar yang lebih kompleks. Sebelum siswa dapat memperoleh dan memproses sejumlah besar informasi, mereka harus menguasai strategi belajar seperti membuat catatan, merangkum isi bacaan. Sebelum siswa dapat berpikir secara kritis,

mereka perlu menguasai keterampilan dasar yang berkaitan dengan logika, membuat infrensi dari data, dan mengenal ketidakobjektifan dari presentasi. Sebelum siswa dapat menulis suatu paragraf mereka harus menguasai pengkonstruksian kalimat dasar, penggunaan kata-kata dengan benar, dan disiplin diri dalam tugas penulisan.
Salah satu perbedaan yang mencolok antara orang yang baru mempelajari sesuatu atau pemula dengan pakar ialah bahwa para pakar telah benar-benar menguasai keterampilan-keterampilan dasar, sehingga mereka dapat menerapkannya dengan presisi dan tanpa difikirkan lagi, walau dalam situasi baru dan penuh tekanan atau beban.
Pembahasan materi tentang metode pengajaran langsung menfokuskan pada pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Pendekatan mengajar ini desebut Model Pengajaran Langsung  (MPL). Istilah lain yang juga dipergunakan ialah Pengajaran Aktif (Good & Grows,  1985), Mastery Teaching (Hunter, 1982), dan Explicit Instruction (Rosenshine &Stevens, 1986). Meskipun tidak sinonim, kuliah/ceramah, dan resitasi berhubungan erat dengan model pengajaran langsung itu.
1. Istilah dan Pengertian
Model Pengajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berakitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan  prosedural yang terstruktur dengan baik  yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah (Arends, 1997). Seperti telah disinggung pada pemaparan terdahulu bahwa Istilah lain yang biasa dipakai untuk menyebutkan model pembelajaran langsung yakni diantaranya training model, active teaching model, mastery teaching, dan explicit instructions.
Adapun gambaran umum atau ciri-ciri dari model pembelajaran Pengajaran Langsung (dalam Kardi & Nur, 200: 3) adalah sebagai berikut:
  1. Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar.
  2. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran; dan
  3. Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil.
Membahas masalah belajar, para pakar teori belajar pada umumnya membedakan dua macam pengetahuan, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural (Marx & Winne, 1994, dalam Kardi & Nur, 2000: 4).
Pengetahuan Deklaratif (dapat diungkapkan dengan kata-kata) adalah pengetahuan tetang sesuatu, suatu contoh pengetahuan deklaratif yaitu bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia merupakan lembaga tertinggi, dan anggotanya ditetapkan untuk jabatan selama lima tahun. Sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, misalnya bagaimana cara pemeilihan dan penetapan anggota MPR.
Model pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural  dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.
2. Sintaks atau Pola Keseluruhan dan Alur Kegiatan Pembelajaran
Pada model pengajaran langsung terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali pelajaran dengan penjelasan tujuan dan latar belakang pembelajaran, serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru.
Fase persiapan dan motivasi ini kemudian di ikuti oleh presentasi materi ajar yang diajarkan atau demonstrasi tentang keterampilan tertentu. Pelajaran itu termasuk juga pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pelatihan dan pemberian umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Pada fase pelatihan dan pemberian umpan balik tersebut, guru perlu selalu mencoba memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata.
Pengajaran langsung, menurut Kardi (1997: 3) dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktek, dan kerja kelompok. Pengajaran langsung digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada siswa. Penyusunan waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran harus seefisien mungkin sehingga guru dapat merancang dengan tepat waktu yang digunakan.
Sintaks Model pengajaran langsung disajikan dalam 5 (lima) tahap, seperti ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Fase
Peran Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mepersiapkan siswa untuk belajar.
Fase 2
Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap
Fase 3
Membimbing pelatihan
Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal
Fase 4
Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
Mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik
Fase 5
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehgidupan sehari-hari.
Tabel 1. Tahapan-Tahapan Model Pengajaran langsung
Pada fase persiapan, guru memotivasi siswa agar siap menerima presentasi materi pelajaran yang dilakukan melalui demonstrasi tentang keterampilan tertentu. Pembelajaran diakhiri dengan pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pelatihan dan pemberian umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Pada fase pelatihan dan pemberian umpan balik tersebut, guru perlu selalu mencoba memberikan kesempatan pada siswa untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata.
3. Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan model pengajaran langsung
Pengajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati di pihak guru agar efektif, pengajaran langsung mensyaratkan tiap detail keterampilan  atau isi didefinisikan secara seksama dan demonstrasi serta jadwal pelatihan direncanakan dan dilaksanakan secara seksama (Kardi dan Nur, 2000: 8).
Menurut Kardi dan Nur (2000: 8-9), meskipun tujuan pembelajaran dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa, model ini terutama berpusat pada guru. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa terutama melalui memperhatikan, mendengarkan, dan resitasi (tanya jawab) yang terencana. Ini tidak berarti bahwa pembelajaran bersifat otoriter, dingin dan tanpa humor. Ini berarti bahwa lingkungan berorientasi pada tugas dan memberi harapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.
4. Penelitian tentang Keefektifan Guru
Landasan penelitian dari model pengajaran langsung dan  berbagai komponennya, berasal dari bermacam-macam bidang. Meskipun demikian, data penunjang empirik yang palin jelas terhadap model pembelajaran langsung berasal dari penelitian tentang keefektifan guru yang dilakukan pada tahun 1970-an dan 1980-an.
Penelitian Stalling dan Kazkowitz (dalam Trianto, 2007: 32) menunjukkan pentingnya waktu yang dialokasikan pada tugas (Time on task). Penelitian ini juga menyumbang dukungan empirik penggunaan pengajaran langsung. Beberapa orang guru menggunakan metode-metode yang sangat terstruktur dan formal, sedangkan guru-guru yang lain menggunakan metode-metode yang informal. Stalling dan koleganya ingin mengungkapkan, manakah di antara program-program itu yang dapat berfungsi baik dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Prilaku guru-guru dalam 166 kelas yang diamati, siswa-siswa dites. Banyak hal yang dapat diungkap pada penelitian itu, namun ada dua hal yang sangat menonjol, yaitu alokasi waktu dan penggunaan tugas (kegiatan yang menggunakan metode pengajaran langsung lebih berhasil dan memperoleh tingkat keterlibatan yang tinggi daripada mereka yang menggunakan metode-metode informal dan berpusat pada siswa.
Beberapa hasil penelitian tahun 1970-an, misalnya yang dilakukan oleh Stalling dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa guru yang memiliki kelas yang terorganisasikan dengan baik menghasilkan rasio keterlibatan siswa (Time task ratios) yang lebih tinggi daripada guru yang menggunakan pendekatan yang kurang formal dan kurang terstruktur. Observasi terhadap guru-guru yang berhasil, menunjukkan bahwa kebanyakan mereka menggunakan prosedur pengajaran langsung (Kardi dan Nur, 2000: 17).
B. Pelaksanaan Pengajaran Langsung
Sebagaimana halnya setiap mengajar, pelaksanaan yang baik model pengajaran langsung memerlukan tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan yang jelas dari guru selama berlangsungnya perencanaan, pada saat melaksanakan pembelajaran, dan waktu menilai hasilnya. Beberapa diantara tindakan-tindakan tersebut dapat dijumpai pada model-model pengajaran yang lain, langkah-langkah atau tindakan tertentu merupakan ciri khusus pengajaran langsung. Ciri utama unik yang terlihat dalam melakukan suatu pengajaran langsung adalah sebagai berikut:
1. Tugas-tugas perencanaan
Pengajaran langsung dapat diterapkan di bidang studi apapun, namun model ini paling sesuai untuk mata pelajaran yang berorientasi pada penampilan atau kinerja seperti menulis, membaca, matematika, musik dan pendidikan jasmani. Di samping itu pengajaran langsung juga cocok untuk mengajarkan komponen-komponen keterampilan dari mata pelajaran sejarah dan sains.
Beberapa hal yang dilakukan sekaitan dengan tugas-tugas perencanaan, adalah: (1)  merumuskan tujuan, (2) Memilih isi, (3) Melakukan analisis tugas, dan (4) Merencanakan waktu dan ruang.
2. Langkah-Langkah Pembelajaran Model Pengajaran langsung
Langkah-langkah pembelajaran model pengajaran langsung pada dasarnya mengikuti pola-pola pembelajaran secara umum. Meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut:
  1. Menyiapkan dan memotivasi siswa, Tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa, serta memotivasi mereka untuk berperan serta  dalam pelajaran itu.
  2. Menyampaikan tujuan, Siswa perlu mengetahui dengan jelas, mengapa mereka berpartisipasi dalam suatu pelajaran tertentu, dan mereka perlu mengetahui apa yang harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam pelajaran.
  3. Presentasi dan Demonstrasi, Fase ini merupakan fase kedua pengajaran langsung. Guru melaksanakan presentasi atau demonstrasi pengetahuan dan keterampilan. Kunci keberhasilan kegiatan demonstrasi ialah tingkat kejelasan demostrasi informasi yang dilakukan dan mengikuti pola-pola demonstrasi yang efektif.
  4. Mencapai kejelasan, Hasil-hasil penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa kemampuan guru untuk memberikan informasi yang jelas dan spesifik kepada siswa, mempunyai dampak yang positif terhadap proses belajar mengajar.
  5. Melakukan demonstrasi, Pengajaran langsung berpegang teguh pada asumsi bahwa sebagian besar yang dipelajari (hasil belajar) berasal dari mengamati orang lain. Belajar dengan meniru tingkah laku orang lain dapat menghemat waktu, menghindari siswa dari belajar melalui “trial and error.”
  6. Mencapai pemahaman dan penguasaan, Untuk menjamin agar siswa akan mengamati tingkah laku yang benar dan bukan sebaliknya, guru perlu benar-benar memperhatikan apa yang terjadi pada setiap tahap demonstrasi ini berarti, bahwa jika guru perlu berupaya agar segala sesuatu yang didemonstrasikan juga benar.
  7. Berlatih, Agar dapat mendemonstrasikan sesuatu dengan benar diperlukan latihan yang intensif, dan memperhatikan aspek-aspek penting dari keterampilan atau konsep yang didemonstrasikan.
  8. Memberikan latihan Terbimbing, Salah satu tahap penting dalam pengajaran langsung ialah cara guru mempersiapkan dan melaksanakan “pelatihan terbimbing.” Keterlibatan siswa secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat belajar berlangsung dengan lancar, dan memungkinkan siswa menerapkan konsep/keterampilan pada situasi yang baru.
Menurut Kardi dan Nur (2000: 35-36) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menerapkan dan melakukan pelatihan.
  • Menugasi siswa melakukan latihan singkat dan bermakna
  • Memberikan pelatihan pada siswa sampai benar-benar menguasai konsep/keterampilan yang dipelajari
  • Hati-hati terhadap latihan yang berkelanjutan, pelatihan yang dilakukan terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan kejenuhan pada siswa, dan
  • Mempersiapkan tahap-tahap awal pelatihan, yang mungkin saja siswa melakukan keterampilan yang kurang benar atau bahkan salah tanpa disadari.
Mengecek pemahaman dan Memberiakan Umpan Balik.
Tahap ini kadang-kadang juga disebut tahap resitasi, yaitu guru memberikan beberapa pertanyaan lisan atau tertulis kepada siswa dan guru memberi respon terhadap jawaban siswa. Kegiatan ini meruapakan aspek penting dalam pengajaran langsung karena tanpa mengetahui hasilnya, latihan tidak banyak memberikan manfaat bagi pembelajaran.
Berbagai cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam melakukan resitasi misalnya umpan balik secara lisan, umpan balik tertulis dan umpan balik komentar tertulis.
Memberikan kesempatan latihan mandiri
Pada tahap ini guru memberikan tugas kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang baru saja diperoleh secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan secara pribadi di rumah atau di luar jam pelajaran. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memberikan tugas mandiri, yaitu:
  • Tugas yang diberikan bukan merupakan kelanjutan dari proses pembelajaran, tetapi merupakan kelanjutan pelatihan untuk pembelajaran berikutnya;
  • Guru seyogyanya menginformasikan kepada orang tua siswa tentang tingkat keterlibatan mereka dalam membimbing siswa di rumah
  • Guru perlu memberikan umpan balik tentang hasil tugas yang diberikan kepada siswa di rumah.

DAFTAR PUSTAKA
Ardana, Made.2001. Pengembangan Model Kooperatif Individuasi Berbantu Berwawasan Konstruktivis. Singaraja:Aneka Widya SIKIP Singaraja.
Djangi Muh. Jasri.1994. Memanfaatkan Siswa yang Pandai sebagai Tutor Sebaya dalam Pengajaran Biologi di SMA. Makalah dalam Jurnal Transformasi. Makassar.FPMIPA UNM.
Glazer,E.2001. Problem Based Instruction. http://www.coe.uga.edu.epltt/problem basedinstruc.htm
Ibrahim, Muslimin.  Mohammad Nur. 2000. Pembelajaran Berdasarkan Masalah .Surabaya: Universitas Negeri Surabaya
I Wayan Dasna dan Sutrisno. 2000. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning) Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang
Kardi, Soeparman. Mohammad Nur. 2000. Pengajaran Langsung. Surabaya: Universitas Negeri Malang. 
Nurhadi.2004. Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta: Grasindo.
Trianto, S.Pd.M.Pd.2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek.Prestasi Pustaka Publisher. Jakarta
Sardiman A.M. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT. Raja Grafindo Perkasa. Jakarta.
Sudjana,Nana.2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.Bandung:Sinar Baru Algensindo.

ktsp.diknas.go.id/download/ktsp_smp/16.ppt.

Aan Hasanah- Pembelajaran Berbasis Kontekstual 1

www.geocities.com/ahliswiwite/AanHasanah.htm – Model pembelajaran berbasis masalah yang menekankan pada representasi matematik merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan keaktifan dan kreativitas

Sabtu, 19 Maret 2011

Belajar Hidup Dari Hidup Rasulullah SAW

Dalam Allah SWT berfirman,”Wahai Nabi! Sesungguhnya kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah (Islam) dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi. Al Quran Surah Al-Ahzab (33: 45-46)  Masya Allah! Allah benar-benar telah memuliakan kita, manusia ini, dengan diutusnya seorang Rasul penutup: Muhammad SAW. Dia menjadi pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, serta menjadi penyeru kepada agama Islam dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang meneranginya.  Kehadiran Rasulullah adalah cahaya bagi manusia. Dia adalah teladan yang sempurna untuk kehidupan di dunia ini dan kehidupan abadi di akhirat nanti. Sebab, pada diri RasulullahMuhammad SAW, terdapat teladan yang baik dan maha sempurna.  Buku ini memberikan gambaran ringkas perjalanan hidup Rasulullah SAW, sejak kelahirannya hingga ajal menjemput. Bagi kaum muslim, membaca buku ini merupakan cara untuk lebih mengenal Rasulullah SAW, untuk lebih mencintainya. Dengan mengenal dan mencintainya, kerinduan untuk bertemu dengan Rasulullah SAW insya Allah akan makin membuncah. Kerinduan, yang mesti ditunaikan dengan meneladani apa-apa yang dicontohkan Rasulullah SAW.  Bagaimana orang bisa mengklaim mencintai Rasulullah Muhammad SAW jika pada dirinya tidak ada pengetahuan mengenai kekasihnya itu. Mencintainya antara lain dengan mengetahui dan mengenal nama-namanya, mengetahui sifat-sifatnya, mengenal kelembutan dan kasih sayangnya, mengenal bagaimana Rasulullah SAW mencintai umautnya.  Kita mafhum, sebelum kedatangan Rasulullah SAW tatanan moral dan adab dunia amburadul. Jamak masa itu dikenal dengan jaman jahiliyah, jaman kegelapan. Sebagaimana Allah tegaskan, Muhammad SAW diutus-Nya untuk memberi cayaha, penerangan bagi dunia dan seisinya. Sebagai rahmat bagi dunia, bukan saja manusia dan jin, tapi seluruh makhluk Allah.  Buku ini memberi gambaran bagaimana kondisi dunia (khususnya di Arab) sebelum kelahiran Muhammad SAW. Memberi pula gambaran masa kecil dan muda Muhammad SAW. Bagaimana Muhammad mendapatkan wahyu ketika berada di Gua Hira. Buku ini menjajikan secara lengkap perjalanan kenabian beliau. Bagaimana perjuangan Rasullah dan para sahabat saat awal-awalkenabian hinggaketika kemudian harus hijrah ke Madinah. Perkembangan perjuangan di Madinah, yang pada akhirnya beberapa kali Nabi SAWdan sahabat harus mengangkat senjata karena diserang kaum Musrikin dan beberapa kali pula harus menandatangani perjanjian perdamaian, juga digambarkan secara gamblang. Pada akhirnya, Rasulullah dapat merebut kembali Mekah pada tahun 8-Hijriyah atau saat Nabi SAW berusia 60 tahun. Penaklukan Mekah terjadi setelah perjanjian Hudaibiyah dan penaklukan Khaibar. Keduaperistiwa itu adalah jalan pembuka bagi kembalinya Mekah ke tangan Islam. Dengan takluknya Mekah, banyak kemudian suku-suku di Arab yang menyatakan keislaman mereka, misalnya suku Aslam, Ghifar, Daus, Bani Salim dan lainnya.Dan yang istimewa, Rasulullah menaklukkan Mekah tampa pertumpahan darah.  Pada buku ini juga digambarkan bagaimana Rasulullah menghadapi ajal. Sungguhpun Allah telah menjamin Surga kepadanya dan ia bersih dari dosa, maut tetap menjemput. Rasa sakit ketika nyawa dicabut dari raga Rasulullah, tiada terkira. Jika seorang Rasul yang pada dirinya tiada doda surga telah dijamin baginya, rasa sakit hadir saat nyawa lepas dari raga, lalu bagaimanakah dengan kita? Sungguh, ini pelajaran yang amat berharga.  Muhammad SAW lahir pada hari Senin saat matahari terbit. Ini adalah pertanda bahwa ia akan menjadi cahaya bagi alam semeta. Rasulullah pun meninggal pada hari Senin saat matahari terbit. Ini adalah isyarat bahwa ajarannya tidak akan lenyap sampai akhir jaman. Sungguh. Sebab, Allah-lah yang akan menjaganya. Allah-lah yang akan menjaga Quran dan sunah-sunahNabi SAW untuk tetap ada. Allah sendiri yang berjanji, dan Dia tak pernah ingkar atas janji-Nya.  Dan Quran sendiri telah menegaskan, ”Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, maka kamu akan berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersykur.” (Ali Imran [3]: 144)  Lebih lanjut tentang: Belajar Hidup Dari Hidup Rasulullah SAW

MODEL PEMBELAJARAN INDUCTIVE THINKING

PENDAHULUAN

Di Indonesia, proses pembelajaran pada siswa di satuan pendidikan dasar saat ini dirasakan masih banyak yang menggunakan pola pembelajaran lama sebagaimana proses pembelajaran yang menggunakan strategi pembelajaran expository. Layaknya sebuah bangunan, sekolah dasar sebagai satuan pendidikan merupakan satu hal yang sangat prinsip dalam membentuk dan membangun serta mengembangkan kemampuan anak dalam banyak hal, seperti proses dan pola berpikir, bertindak, dan mengambil suatu keputusan baik untuk dirinya sendiri, orang lain, maupun untuk kepentingan bersama.
Melalui implementasi dan pengesahan serta diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, tiap-tiap sekolah mempunyai otoritas yang lebih besar untuk mengelola, memikirkan, dan mengembangkan arah dan tujuan dari satuan pendidikan tersebut akan bermuara. Pengelolaan secara operasional diserahkan sepenuhnya kepada pengelola dan penanggungjawab satuan pendidikan.
Saat ini, proses pembelajaran yang berafiliasi pada paham kontruktivisme dianggap lebih memanusiakan peserta didik (dalam hal ini, hak dan kemampuan peserta dianggap lebih dipandang sebagai salah satu unsur keberhasilan dalam mencapai proses pembelajaran yang optimal, pandangan bahwa proses pembelajaran bersumber pada guru (teacher centered) telah berpindah pada proses pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Implikasinya, pada proses pembelajaran yang berlangsung sudah selayaknyalah model pembelajaran seperti expository berangsung-angsur tidak selamanya dan selalu digunakan pada proses pembelajaran tentunya dengan memperhatikan latar belakang materi dan uraian materi pembelajaran yang akan dipelajari.
Pola pembelajaran yang berpusat pada siswa menuntut kekreatifan guru tidak hanya dalam hal mempersiapkan materi pembelajaran yang akan dipelajari tentunya juga perlu memikirkan penggunaan strategi dan model pembelajaran yang akan digunakan. Penggunaan strategi dan metode pembelajaran dengan memperhatikan titik tolak materi pembelajaran yang akan dipelajari merupakan satu langkah kreatif untuk mencapai optimalisasi proses pembelajaran dan bermuara pada proses dan hasil pembelajaran secara tuntas (mastery learning).
Diantara sekian banyak model dan strategi serta metode pembelajaran yang pernah ada dan dikupas banyak ahli pendidikan, satu diantaranya adalah model pembelajaran berpikir induktif (learning inductively). Pembelajaran secara induktif banyak digunakan dan diimplementasikan pada pola pembelajaran secara individual. Merupakan kelompok model pembelajaran yang memproses informasi.

BAB II
MODEL PEMBELAJARAN INDUCTIVE THINKING

A. PENGERTIAN
Berpikir merupakan bentuk kata yang berasal dari kata dasar pikir yang berarti akal, budi, ingatan, angan-angan; kata dalam hati, pendapat (pertimbangan) . Berpikir dapat diartikan menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu, menimbang-nimbang dalam ingatan[4] . Proses berpikir merupakan suatu proses terjadi dalam otak seseorang yang mana proses tersebut diharapkan menghasilkan sesuatu yang memang belum ada maupun merupakan suatu bentuk inovasi/pembaruan dari hal yang telah ada.
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus . Model pembelajaran induktif adalah sebuah pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir kritis.
Dalam kaitannya pada proses pembelajaran di satuan pendidikan dasar di Indonesia. Model berpikir induktif cenderung lebih mudah digunakan pada materi pembelajaran yang masih bersifat konseptual. Ha ini dapat dilihat pada pola dan karakteristik pembelajaran yang merupakan kategori berpikir induktif ini. Namun, tidak menutup kemungkinan aktifitas yang dikembangkan dalam proses pembelajaran akan melibatkan unsur psikomotorik dari peserta didik.
B. MODEL PEMBELAJARAN BERPIKIR SECARA INDUKTIF
Bruce Joyce dan Marsha Weil mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kaitannya di sini model berpikir induktif merupakan bagian dari kelompok model pembelajaran pengolahan informasi (information-processing).
Model berpikir induktif meyakini bahwa siswa sebagai peserta didik merupakan konseptor ilmiah. Setiap saat seseorang selalu berusaha untuk melakukan suatu konseptualisasi dalam hal apapun, proses berpikir induktif diperlukan Model berpikir induktif mempunyai beberapa karakteristik utama antara lain;
Fokus : Fokus membantu peserta didik untuk berkonsentrasi pada satu ranah/kemampuan berpikir (bidang penelitian) yang dapat mereka kuasai, tanpa mengecilkan keinginan dalam hati mereka yang jelas membuatnya tidak bisa menggunakan seluruh kemampuan untuk menghasilkan suatu gagasan yang luar biasa. Hal utama yang perlu dilakukan adalah menyajikan seperangkat data yang menyediakan informasi terhadap suatu cakupan mata pelajaran tertentu dengan meminta peserta didik mempelajari sifat-sifat objek dalam perangkat yang disajikan tersebut.
Dengan fokus terhadap suatu kajian tertentu yang familiar di telinga dan mata peserta didik hal ini diharapkan dapat mendukung dan mencapai proses pembelajaran yang optimal sebagaimana tujuan yang akan dicapai pada standar isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar).
Pengawasan/kontrol konseptual, ini membantu siswa mengembangkan kemampuan konseptual terhadap satu ranah/bidang kajian tertentu. Dalam hal ini sebagai contoh yaitu siswa disajikan tentang berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi di Indonesia, siswa akan mengklasifikasikan berbagai kegiatan ekonomi tersebut dalam suatu kelompok/jenis seperti kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi.
Melalui pengetahuan awal peserta didik akan lebih mudah mengembangkan pemahaman dan karakteristik kegiatan ekonomi di Indonesia seperti produsen-produsen yang menghasilkan suatu produk makanan ringan dengan merk tertentu, maupun contoh-contoh praktek penjualan yang bukan hanya barang saja yang dapat didistribusikan sebagai objek jual, namun jasa juga dapat dijual pada proses jual-beli sebagai implementasi pada proses distribusi objek tertentu.
Hal ini akan melatih peserta didik untuk memudahkan proses klasifikasi dan kategorisasi dalam membedakan dan memahami karakter produksi, konsumsi, dan distribusi sekalipun dengan banyaknya objek yang disajikan pada proses pembelajaran di tiap awal pertemuan (apersepsi).
Mengkonversi pemahaman konseptual menjadi ketrampilan. Dalam hal proses membangun pemahaman secara konseptual pada proses klasifikasi secara abstrak, peserta didik tanpa disadari tentunya akan melakukan suatu aktifitas yang melibatkan unsur motorik dan tentunya kognitif mereka.
Melalui proses kategorisasi dan pengelompokan ini, peserta didik akan menggunakan tangannya untuk menulis dan memikirkan jenis pengelompokan yang digunakan untuk membedakan mana yang termasuk kegiatan produksi, kegiatan distribusi, dan mana yang termasuk kegiatan konsumsi.
Model berpikir induktif dapat membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi dan mengujinya secara ilmiah (dengan tahap perkembangan usia dan berpikir peserta didik) dengan teliti, mengolah informasi ke dalam konsep-konsep, dan belajar memanipulasi konsep-konsep tersebut. Apabila digunakan secara bertahap, model thinking inductively juga dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk membentuk konsep-konsep secara efisien dan meningkatkan jangkaian perspektif dari sisi mana mereka memandang suatu informasi tertentu.
C. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TEKNIK THINKING INDUCTIVE
Ada kelebihan pasti ada kekurangan. Beberapa hal yang kontras namun perlu diketahui adalah apapun jenis metode yang digunakan pastinya akan ada kelebihan dan kekurangan ketika diimplementasikan pada proses pembelajaran yang berlangsung, menurut Restiana rendi dalam sebuah catatan di blognya dipaparkan mengenai kelebihan dan kekurangan dari model berpikir induktif ini, antara lain;
1) Kelebihan Model Pembelajaran Induktif
a) Pada model pembelajaran induktif guru langsung memberikan presentasi informasi-informasi yang akan memberikan ilustrasi-ilustrasi tentang topik yang akan dipelajari siswa, sehingga siswa mempunyai parameter dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
b) Ketika siswa telah mempunyai gambaran umum tentang materi pembelajaran, guru membimbing siswa untuk menemukan pola-pola tertentu dari ilustrasi-ilustrasi yang diberikan tersebut sehingga pemerataan pemahaman siswa lebih luas dengan adanya pertanyaan-pertanyaan antara siswa dengan guru.
c) Model pembelajaran induktif menjadi sangat efektif untuk memicu keterlibatan yang lebih mendalam dalam hal proses belajar karena proses Tanya jawab tersebut.
2) Kelemahan Model Pembelajaran Induktif
a) Model ini membutuhkan guru yang terampil dalam bertanya (questioning) sehingga kesuksesan pembelajaran hamper sepenuhnya ditentukan kemampuan guru dalam memberikan ilustrasi-ilustrasi.
b) Tingkat keefektifan model pembelajaran induktif ini, jadinya-sangat tergantung pada keterampilan guru dalam bertanya dan mengarahkan pembelajaran, dimana guru harus menjadi pembimbing yang akan untuk membuat siswa berpikir.
c) Model pembelajaran ini sangat tergantung pada lingkungan eksternal, guru harus bisa menciptakan kondisi dan situasi belajar yang kondusif agar siswa merasa aman dan tak malu/takut mengeluarkan pendapatnya. Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai secara sempurna.
d) Saat pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran induktif, guru harus menyiapkan perangkat yang akan membuat siswa beraktivitas dan mengobarkan semangat siswa untuk melakukan observasi terhadap ilustrasi-ilustrasi yang diberikan, melalui pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dengan metode ini maka kemandirian siswa tidak dapat berkembang optimal.
e) Guru harus menjaga siswa agar perhatian mereka tetap pada tugas belajar yang diberikan, sehingga peran guru sangat vital dalam proses belajar siswa.
f) Kesuksesan proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran induktif bergantung pada contoh-contoh atau ilustrasi yang digunakan oleh guru.
g) Pembelajaran tidak dapat berjalan bila guru dan muridnya tidak suka membaca, sehingga tidak mempunyai pilihan dalam proses induktif.
D. STRUKTUR PEMBELAJARAN INDUCTIVE THINKING
Tahap-tahap model induktif meliputi empat aspek antara lain;
1. Mengidentifikasi dan penghitungan data yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan dipelajari 2. Mengelompokkan objek-objek data menjadi kategori yang anggotanya bersifat umum, 3. Menafsirkan data dan mengembangkan label untuk kategori sebelumnya (point 2) sehingga data dapat dimanipulasi secara simbolis 4. Mengubah kategori-kategori menjadi ketrampilan/hipotes
KESIMPULAN

Terlihat dari aspek dan karakteristiknya, model inductive thinking cenderung lebih sesuai dipergunakan pada proses pembelajaran yang mana pada saat pembelajaran sedang dipelajari materi pembelajaran yang memang lebih ke materi konsep (bukan penerapan), namun tidak menutup kemungkinan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan secara tersirat yang menggunakan model inductive thinking menggunakan metode pembelajaran seperti discovery yaitu metode pembelajaran yang berafiliasi pada aliran psikologi konstruktivisme.
Inductive thinking dapat dipergunakan pada proses pembelajaran di kelas tinggi maupun rendah, akan tetapi sekalipun ini merupakan satu inovasi dalam strategi pembelajaran, model inductive thinking tidak serta merta dapat digunakan setiap hari. Proses transformasi informasi pada pembelajaran yang menggunakan model ini lebih terlihat.
Terkait dengan kurang atau lebihnya suatu pendekatan model suatu pembelajaran inductive thinking tidak terlepas dari karakteristik model tersebut sekalipun bagus sebuah model pembelajaran diterapkan di kelas berkelompok tidak semua model pembelajaran dapat diterapkan dalam pembelajaran individual.
Terakhir, sebagai manusia yang diciptakan Allah dengan segala kesempurnaan dengan makhluk lainnya yang pernah diciptakan di muka bumi ini, kami selaku manusia biasa tidak pernah hilang dari sebuah kata kekeliruan, masukan dan kritikan serta berbagai hal yang membangun dan menumbuhkan kreatifitas bagi kami dan kita bersama tentunya sangat kami harapkan….
Mari demi pendidikan kita lakukan sesuatu untuk pendidikan di Indonesia yang (kata orang) sedang menuju jurang kehancuran….

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia – edisi ketiga cetakan ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. 2005
Tim Penyusun. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Sekolah Dasar Kelas V – standar isi 2006. Jakarta: ESIS. 2007
http://sman1sukaraja.com/strategi%20pembl/induktif-deduktif/deduktif.html
http://restianarendi.wordpress.com/2009/12/05/model-belajar-induktif/
http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran#induktif
http://kur2003.if.itb.ac.id/file/CN%20IF2101%20Dasar%20Psikologi.pdf
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Temui Kami Di FACEBOOK